Having a plan is the best way to make a life change. It's the difference between a goal and a wish

Senin, 25 April 2011

Globalisasi


Globalisasi dalam arti literal adalah sebuah perubahan social, berupa bertambahnya keterkaitan diantara masyarakat dan elemen-elemennya yang terjadi akibat transkulturasi dan perkembangan teknologi di bidang transpormasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional. Istilah globalisasi dapat diterapkan dalam berbagai konteks sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya. Misalnya, globalisasi dapat berarti :

  1. Pembentukan desa global (global village), kontak yang lebih erat antara berbagai pelosok dunia, meningkatkan interaksi personal, saling kerja sama dan persahabatan antara penduduk dunia.
  2. Globalisasi ekonomi, meningkatnya perdagangan bebas dan meningkatnya hubungan antara pelaku ekonomi di berbagai negara.
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi, dan istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara. Globalisasi juga bisa dinamakan sebuah sistem atau tatanan yang dapat mengubah seseorang menjadi terbuka pada lingkungan internasional.

Dua kutub antara Globalisasi dan Nasionalisasi

Dua kutub, dua ide, dua pandangan,  dua wilayah, dua pertempuran, dua keinginan, dua cara pandang, dua golongan, dua warna dan banyak dua hal lainnya. Sayangnya, dua-dua hal tersebut hanya terdapat dalam selembar daun kelor bernama dunia. Dan disitulah mereka bertemu. Kadang bisa bercinta bahkan kadang bisa bertempur. Dan hasil akhirnya bisa menjadi kolaborasi yang indah, atau bahkan buruk.

Globalisasi menurut Wikipedia adalah sebuah payung yang mewadahi adanya perubahan karena efekk kolektif, yang berakibat sebuah perubahan. Efek itu kolektif, karena terjadi secara masif, meruyak ke seluruh dunia. Perubahan itu ikut pula kolektif ternyata globalisasi seperti sebuah perayaan massal atas perubahan. Perubahan ini terjadi karena distribusi kapital yang mengglobal (ke seluruh dunia). Yang didistribusikan termasuk manusia, keuangan, sumber-daya, dan kekuasaan.

Globalisasi adalah fenomena perubahan yang terjadi secara menyeluruh, dirasakan secara kolektif, dan mempengaruhi banyak orang (baik lintas wilayah maupun lintas negara), yang bisa mempengaruhi gaya hidup dan lingkungan kita. Dunia memang telah berubah, globalisasi adalah anak dari dunia yang terhubung (connected world) seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, globalisasi makin tidak dapat dihindari. Setelah ditemukan kertas oleh bangsa Cina dan mesin cetak oleh Gutenberg penyebaran informasi makin mudah. Kemudian datang telegraf, telepon, dan paling akhir adalah internet sehingga pertukaran ide semakin instan. Tentu saja tidak hanya ide dalam artian ideologi saja yang tersebar, tetapi juga ide pertukaran manusia, ide pertukaran ekonomi, ide pertukaran materi yang terjadi makin mudah dan cepat. Selain ide, segala jenis pertukaran informasi menjadi mudah. Transaksi keuangan lintas-benua semakin memungkinkan.

            Dalam beberapa detik, sejumlah uang dapat menyeberang dunia, entah pencairan utang IMF, atau pembelian roti untuk kemanusiaan yang dikirim ke Afrika. Ide pembangunan menyeberangi dunia. Pengembangan kota di Indonesia tumbuh, sementara hutang bertambah. Ada rakyat yang bahagia menikmati proyek, baik karena nilai proyeknya, atau karena mendapatkan beberapa cuil komisi dan korupsi. Ada rakyat yang sesenggukan menahan tangis karena harus diusir dari tanah nenek-moyangnya untuk proyek bendungan spektakuler itu. Berapa nilai yang tersebar? Pembangunan, kekejaman, Kemiskinan. Ada pula transaksi keuangan terbuka, sejumlah dana tiba-tiba ada di Indonesia (entah dari mana terminalnya), dana itu ternyata hanya mampir untuk menggolkan sebuah kepentingan dari orang-orang tertentu. Setelah Rupiah tertekan, tiba-tiba dana itu pergi dan lompat mencari sasaran lain. Demikian cepat, demikian ringannya. Terkadang ide dasar globalisasi yakni memandang sesuatu pada kapital sungguh kejam.

            Nasionalisme, mudahnya ide ini kita anggap sebagai lawan globalisasi. Ide dasarnya, kaum nasionalis selalu menganggap bahwa nasionalisasi merupakan musuh, maka segala hal yang menunjang pada indikator globalisasi harus dilawan. Bila nilai mata uang tidak mengembang (misalnya terkunci tetap terhadap dolar), maka legislasi ekonomi diperketat untuk kepentingan negara, demikian sifatnya adalah melindungi, proteksi. Pada akhirnya yang dirasakan globalisasi dan nasionalisasi adalah suatu efek dari kekuasaan, Cina yang demikian kuat fundamentalnya berani memaksakan proteksi (nasionalisasi) demi kepentingannya, demikian pula Malaysia, tapi tidak dengan Indonesia. Mengapa?

  (Tulisan ini merupakan catatan penulis saat memberikan Materi kepada Anggota KSM (Kelompok Study Mahasiswa) UNAS, Jakarta)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar